PT. IGB Dampingi Petani Desa Kersik Dari Awal Pengolahan Garam Hingga Panen Raya

Bujurnews — Desa Kersik merupakan salah satu desa yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, karena terletak di daerah pesisir, pada Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Untuk itu, banyak pihak melirik potensi tersebut, salah satunya potensi pengembangan dari sektor maritim yang dimilikinya, dalam hal ini yaitu garam.
Di antaranya yang turut berperan aktif dalam hal ini ialah PT. Inti Garam Borneo (PT. IGB). Dibawah pendampingan serta pengawasan tenaga ahli yang dimiliki, produksi garam para petani lokal menjadi lebih produktif.
Dengan melakukan pendampingan kepada kelompok petani garam sejak dari kurun waktu satu tahun belakangan, kini produksi garam para petani telah memasuki masa panen raya untuk pertama kalinya.
“PT kami melakukan pendampingan terhadap kelompok tani garam. Sejak dari awal proses pengolahan hingga sampai terjadinya garam kami awasi untuk prosesnya. Alhamdulillah, bulan September lalu kami sudah lakukan panen raya,” ungkap Barolym, Direktur PT. IGB saat ditemui awak media Bujurnews.com (5/11/2024)

Foto: Istimewa
Ia pun menambahkan, dalam proses pengembangan pertanian garam di Desa Kersik ini, peran dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur (DKP Kaltim) beserta Pemkab Kukar dan pihak terkait lainnya tak terpisahkan.
“Banyak pihak yang terlibat dalam prosesnya perjalanannya,” ucapnya.
Untuk diketahui, garam yang diproduksi para petani di Desa Kersik ini, merupakan garam krosok atau mentah. Berdasarkan informasi yang beredar, harga jual garam krosok berada di rentang antara 5-10 ribu rupiah per kilogramnya.
Untuk itu pihaknya berusaha mengakomodir para petani yang ada untuk dapat mengembangkan produksi garam di desanya, dari garam krosok atau mentah menjadi garam yodium yang siap dipasarkan, guna mendongkrak nilai jual dan berdaya saing tinggi di pasaran.
“Potensi garam disini sangatlah besar, karena desanya terletak di sekitar laut dengan kondisi air yang terbilang cukup bagus. Namun masih perlu proses penyesuaian sistem produksi garam, karena tentunya di setiap wilayah memiliki cara yang berbeda-beda dalam memaksimalkan produksi garamnya,” pungkasnya
Lebih jauh dirinya berharap untuk mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah serta pihak ketiga yang masuk sebagai investor untuk menunjang kebutuhan produksi garam guna menjangkau kebutuhan ekspor di masa mendatang. (ape)