KaltimKotaKutim

31 Kasus Suspek Campak di Kutim, Belum Ada yang Terkonfirmasi Positif

Bujurnews, Kutai Timur – Dinas Kesehatan Kutai Timur (Dinkes Kutim) mencatat 31 kasus suspek campak yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten hingga akhir Agustus 2025. Meski demikian, belum ada satu pun kasus yang terkonfirmasi positif.

Epidemiolog Kesehatan Ahli Pertama Dinkes Kutim, Mirwan, menjelaskan bahwa data tersebut diperoleh dari pelaporan mingguan berbasis indikator oleh seluruh Puskesmas di Kutim. Dari total 31 kasus, 17 sampel telah dikirim untuk pengujian laboratorium ke Jakarta dan Banjarmasin.

“Dari 17 sampel yang dikirim, 10 hasil sudah keluar dan semuanya negatif. Artinya, hingga saat ini belum ada kasus campak yang terkonfirmasi di Kutim,” ujar Mirwan, Kamis (28/8/2025).

Distribusi kasus suspek tersebar merata di 21 Puskesmas. Sampel diambil berdasarkan gejala awal yang mengarah ke campak, seperti ruam merah pada kulit. Langkah ini merupakan bagian dari upaya deteksi dini dan surveilans aktif untuk mencegah potensi wabah.

Mirwan menambahkan, pihaknya menargetkan minimal satu sampel dari setiap Puskesmas, sesuai dengan target tahunan dari pemerintah provinsi. Hal ini untuk memastikan Kutim benar-benar bebas dari penularan aktif campak.

Namun demikian, kekhawatiran tetap muncul mengingat rendahnya cakupan imunisasi di Kutim. Hingga Juli 2025, capaian imunisasi campak baru mencapai 31,70 persen, jauh dari target ideal 80–90 persen untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

“Kami berharap masyarakat, terutama para orang tua, sadar akan pentingnya imunisasi. Ini bukan hanya untuk mencegah campak, tetapi juga mengurangi dampaknya jika terinfeksi,” tambahnya.

Plt Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, menyampaikan bahwa pengawasan akan terus diperketat melalui aplikasi SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons) yang terhubung langsung dengan pusat. Jika ditemukan kasus terkonfirmasi, Tim Gerak Cepat (TGC) akan segera diaktifkan untuk melakukan pelacakan, edukasi, dan pencegahan lanjutan.

Dinkes Kutim juga mengimbau masyarakat untuk tidak menunda vaksinasi.

“Vaksinasi campak sangat penting. Ini bukan hanya mencegah penularan, tapi juga menurunkan risiko keparahan. Mari dukung program imunisasi demi melindungi anak-anak kita dari penyakit yang bisa dicegah,” tegas Sumarno.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI menyoroti tren peningkatan kasus campak secara nasional, yang disebabkan menurunnya cakupan imunisasi rutin dalam beberapa tahun terakhir. Kejadian Luar Biasa (KLB) campak kembali terjadi, salah satunya di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Kepala Dinkes Sumenep, drg. Ellya Fardasah, melaporkan bahwa sejak kasus pertama muncul pada Agustus 2024 hingga 26 Agustus 2025, tercatat 2.139 kasus suspek campak, dengan 205 kasus terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Mayoritas pasien adalah anak balita dan usia sekolah dasar. (Ma/ja)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button