HeadlineNasional

ESDM Pastikan Bioetanol Gantikan Pertamax Bertahap, Diterapkan Terbatas per Wilayah

Bujurnews, Nasional – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan program mandatori bensin dengan campuran bioetanol akan menggantikan Pertamax (RON 92) secara bertahap, dengan penerapan terbatas di wilayah tertentu. Kebijakan ini tidak akan diberlakukan serentak secara nasional karena keterbatasan pasokan dan infrastruktur.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menegaskan mandatori bioetanol tidak akan langsung menghapus peredaran bensin RON 92 murni. Hal ini lantaran kapasitas produksi bensin campuran etanol di dalam negeri masih jauh di bawah konsumsi nasional.

“Namun, itu pun di dalam roadmap kita pertimbangkan segmented. Jadi area-area tertentu, seperti Jawa Timur, Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta dulu. Ini kita masukkan dalam roadmap karena sangat bergantung pada suplai,” kata Eniya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Rabu (14/1/2026).

Ia menambahkan konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, sehingga transisi menuju bioetanol mustahil dilakukan secara instan.

“Enggak mungkin sekejap. Konsumsi kita luar biasa besar,” tegasnya.
Eniya menjelaskan, meski PT Pertamina (Persero) telah mulai menjual BBM dengan campuran etanol 5% (E5) melalui produk Pertamax Green 95, perlu penyesuaian infrastruktur, termasuk pembangunan tangki penyimpanan khusus.

“Pertamax Green 95 itu kan bertahap karena tangkinya harus berbeda. Sekarang sudah hampir 200 outlet. Ke depan akan terus bertambah, tetapi Pertamax tanpa etanol tidak akan hilang,” ujar Eniya.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah menargetkan penerapan mandatori bensin campuran etanol E20 paling cepat pada 2027 atau paling lambat 2028. Saat ini, pemerintah masih mengkaji apakah akan memulai dari E10 atau langsung E20.

“E10 sampai E20 untuk etanol akan kita buat mandatori. Program ini dimulai 2027 atau 2028, dan akan dibangun pabrik bioetanol di beberapa lokasi,” kata Bahlil di kawasan RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Menurut Bahlil, bahan baku bioetanol akan bersumber dari jagung, singkong, tebu, serta komoditas lainnya. Ia juga menyebutkan bahwa peta jalan (roadmap) bioetanol nasional hampir rampung.

Sebelumnya, Eniya menegaskan mandatori bioetanol pada tahap awal hanya akan menyasar BBM nonsubsidi, yakni Pertamax.

“Untuk saat ini masih Pertamax. Yang versi PSO belum dibahas,” kata Eniya saat dihubungi Bloomberg Technoz, Jumat (9/1/2026).

Meski demikian, Eniya memastikan Pertamax tanpa campuran etanol tetap akan dijual luas. Pemerintah hanya akan memperbesar porsi Pertamax Green 95 di lokasi-lokasi tertentu sesuai kesiapan pasokan dan infrastruktur.

“Produknya tetap ada. Yang diperbanyak itu Pertamax Green 95 dan hanya di wilayah tertentu, bukan langsung ke semua pulau di Indonesia,” tegas Eniya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button