Opini

Peran Lembaga Filantropi Membersamai Pemerintah Menanggulangi Bencana, Kucurkan Miliaran Rupiah untuk Kemanusiaan

Oleh : Joko Susilo, S.Hut (Pengamat Sosial) – Kutai Timur

BENCANA hidrometeorologi yang menerjang wilayah Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat berupa banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi akhir November 2025 masih menyisakan luka mendalam. Tidak saja bagi korban tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Abdul Muhari menyampaikan, jumlah korban meninggal akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada sejumlah wilayah di Sumatra mencapai 1.177 orang per 4 Januari 2026. Selain itu seluas 107.324 hektare sawah atau sekitar 10 persen dari total lahan sawah yang ada di tiga provinsi tersebut yang menjadi sumber matapencaharian juga mengalami kerusakan setelah diterjang banjir dan tanah longsor.

Belum pulih luka Sumatera, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkap, sudah ada 34 titik kejadian bencana di Indonesia sejak awal 2026. Titik bencana itu tersebar dari Sumatra hingga Maluku.

Menurut Gus Ipul dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI, Selasa (27/1/2026), bencana yang terjadi sejak awal 2025 sebanyak 34 titik tersebar di berbagai daerah. Ada 2 di Sumatra, 4 di Kalimantan, 17 di Jawa, kemudian 3 di Bali, dan Nusa Tenggara, 6 di Sulawesi, dan 2 titik di Maluku.

Sinergi Pemerintah & Lembaga Filantropi dalam Penanggulangan Bencana yang datang bertubi-tubi dan tersebar di berbagai daerah tentu saja memerlukan gerak cepat dari pemerintah, dengan dibantu dari berbagai elemen masyarakat. Sejak dahulu kala bangsa Indonesia dikenal dengan sifat gotong royong dan saling membantu sesama. Terlebih jika ada masyarakat lain yang tertimpa musibah, maka dengan cepat masyarakat dari berbagai kalangan akan bergerak untuk membantu.

Untuk menanggulangi bencana yang terjadi di Sumatra misalnya, pemerintah telah memberikan bantuan hingga distribusi logistik bagi masyarakat terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat .

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyampaikan bahwa total nilai bantuan penanganan tanggap darurat bencana di wilayah Sumatra yang telah tersalurkan mencapai Rp100,4 miliar.

Berbagai lembaga filantropi juga bergerak membantu. BAZNAS mengerahkan bantuan melalui sinergi antara BAZNAS RI, BAZNAS provinsi, serta BAZNAS kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pokok seperti paket sembako, air bersih, makanan siap saji, perlengkapan ibadah, selimut, hingga bantuan layanan kesehatan dan dukungan logistik di lokasi terdampak. Selain itu, BAZNAS juga menyiapkan program pemulihan pascabencana untuk membantu masyarakat bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara mandiri.

Hingga 4 Januari 2026, BAZNAS tercatat telah menyalurkan berbagai bentuk bantuan kemanusiaan kepada 122.133 penerima manfaat di wilayah Sumatra. Dua ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah juga bergerak cepat. LAZISNU melalui program NU Peduli secara masif menyalurkan bantuan untuk korban bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra dengan total donasi mencapai miliaran rupiah. Bantuan difokuskan pada pemulihan penyintas, pembangunan hunian tetap/masjid, serta kebutuhan pokok.

Sementara itu Muhammadiyah melalui MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) dan LAZISMU juga menyalurkan bantuan kemanusiaan besar-besaran untuk korban banjir dan longsor Sumatra. Bantuan mencakup 30 ton beras dari UEA, 3.000 paket family kit, bantuan dana Rp 7,5 miliar, serta layanan Kesehatan, dapur umum, dan hunian darurat bagi puluhan ribu jiwa.

Selain itu berbagai lembaga filantropi seperti Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, Asar Humanity, Adara Relief juga berbagai lembaga filantropi lain baik tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota secara masif menyalurkan bantuan darurat serta pemulihan ke Sumatra (Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat) berupa pangan, paket shelter kit, layanan medis, trauma healing, air bersih, serta berbagai bentuk bantuan lain dengan melibatkan ratusan relawan dan sinergi bersama pemerintah.

Lembaga seperti Dompet Dhuafa, LAZISNU, LAZISMU, dan lainnya (termasuk filantropi Islam) berperan aktif dalam menjangkau korban bencana, menjadikan filantropi sebagai penyangga ketahanan sosial yang penting. 

Besarnya kepercayaan masyarakat dalam menyalurkan bantuannya untuk menanggulangi dampak bencana diberbagai daerah melalui lembaga filantropi menunjukkan hal yang sangat positif. Kepercayaan besar ini tentu saja bukan muncul lewat cara instan, tetapi melalui proses panjang yang dibangun oleh berbagai lembaga tersebut.

Banjir Sumatera, ilustrasi. (int)

Kiprah panjang berbagai lembaga filantropi yang terus hadir di tengah masyarakat, tidak saja pada saat terjadi bencana, namun berbagai program untuk masyarakat kurang mampu seperti pemberdayaan ekonomi untuk UMKM, bantuan pendidikan dan pelatihan keterampilan,layanan kesehatan dan sosial, dan berbagai program positif lainnya.

Seperti kata pepatah, “sedia payung sebelum hujan”, berbagai lembaga filantropi telah menabur benih-benih kebaikan di dalam masyarakat. Ketika sewaktu-waktu terjadi bencana yang memerlukan dana yang relatif besar dan cepat, lembaga-lembaga ini bisa memobilisasi dan mengkoordinasikan dana dari masyarakat untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button