
Aktivitas penerbangan di Bandara APT Pranoto Samarinda (Foto: Dok.Aptpranoto)
Bujurnews, Samarinda – Kenaikan harga tiket pesawat mulai berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara APT Pranoto Samarinda. Dalam beberapa waktu terakhir, jumlah penumpang datang dan berangkat tercatat mengalami penurunan cukup signifikan, terutama pada hari kerja.
Kepala BLU Kantor UPBU Kelas I Bandara APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan, mengatakan penurunan jumlah penumpang mulai terlihat sejak adanya penyesuaian tarif penerbangan akibat kenaikan harga avtur.
“Kalau dari laporan statistik memang ada penurunan jumlah penumpang datang dan berangkat,” ujar Kadek, Rabu (13/5/2026).
Ia menyebut, penurunan penumpang saat ini berkisar antara 30 hingga 40 persen dibanding kondisi normal sebelumnya. Jika biasanya jumlah pergerakan penumpang mencapai sekitar 2.000 orang per hari, kini hanya berada di kisaran 1.500 penumpang.
Menurutnya, kondisi tersebut paling terasa pada hari-hari kerja. Sementara saat akhir pekan, jumlah penumpang masih relatif stabil.
“Weekend masih relatif stabil, tapi di hari biasa memang mulai terasa penurunannya,” katanya.
Sebagaimana diketahui, pemerintah melalui regulasi terbaru telah menaikkan batas atas fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar hingga 38 persen akibat kenaikan harga avtur.
Kebijakan tersebut turut diikuti penyesuaian tarif tiket pesawat dengan kenaikan berkisar 9 hingga 13 persen sejak April lalu.
Kadek menjelaskan, dampak penurunan penumpang membuat sejumlah maskapai mulai melakukan penyesuaian operasional penerbangan. Beberapa jadwal penerbangan bahkan digabung untuk menjaga tingkat keterisian penumpang.
Rute Samarinda–Jakarta dan Samarinda–Surabaya menjadi jalur yang paling terdampak. Sejumlah maskapai disebut mulai mengurangi frekuensi penerbangan harian.
“Super Air Jet yang biasanya dua kali sehari ke Surabaya kadang jadi sekali sehari. Begitu juga Batik Air rute Jakarta,” ungkapnya.
Selain faktor kenaikan harga tiket, ia menilai kebijakan efisiensi anggaran pemerintah turut memengaruhi turunnya mobilitas masyarakat, terutama untuk perjalanan dinas.
“Perjalanan dinas sekarang sudah mulai dibatasi sehingga pergerakan penumpang ikut menurun,” jelasnya.
Meski demikian, pihak bandara memperkirakan lonjakan penumpang masih berpotensi terjadi pada akhir pekan maupun menjelang hari besar keagamaan.
Saat ini, maskapai penerbangan masih terus melakukan penyesuaian operasional di tengah tingginya harga avtur yang menjadi komponen terbesar biaya penerbangan.
“Kami berharap ke depan harga avtur bisa membaik sehingga kondisi penerbangan juga kembali stabil,” pungkas Kadek.(ja)



