KaltimKutim

Ranting Kering Naik Kelas Jadi Busana, By.Yunra Suarakan Bahaya Karhutla

Foto: Kegitan Mahakarya Etam Festival (MEF) 2026 di Atrium BIG Mall Samarinda. (Istimewa)

Samarinda, Bujurnews – Siapa sangka ranting-ranting kering yang kerap terabaikan di kawasan hutan bisa menjadi inspirasi karya fashion bernilai seni. Di tangan desainer Yusi Nudya Rohman, elemen alam tersebut diterjemahkan menjadi koleksi busana bertajuk Rampang yang membawa pesan kepedulian terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Melalui label By.Yunra, Yusi menghadirkan koleksi tersebut dalam peragaan busana pada rangkaian pembukaan Mahakarya Etam Festival (MEF) 2026 di Atrium BIG Mall Samarinda, Jum’at (6/11/2026).

Festival yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur itu berlangsung pada 6–8 November 2026. Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi bagi produk unggulan UMKM, kreativitas, budaya, serta potensi ekonomi daerah.

Mengusung tema lingkungan, Rampang terinspirasi dari kondisi hutan yang mengering, ranting-ranting yang kehilangan kesegarannya, hingga ancaman kebakaran yang mengintai kawasan hutan dan lahan.

Inspirasi tersebut kemudian diolah menjadi rancangan busana dengan karakter artistik dan elegan. Yusi menghadirkan dua pendekatan desain, yakni smart wear dan occasion wear. Meski memiliki karakter berbeda, keduanya tetap membawa benang merah berupa pesan tentang kerentanan alam akibat kerusakan lingkungan.

Ranting kering dalam koleksi ini bukan sekadar elemen estetika. Lebih dari itu, menjadi simbol kondisi hutan yang rentan sekaligus pengingat bahwa ancaman karhutla membutuhkan perhatian serius.

Yusi ingin menunjukkan bahwa fashion tidak harus berhenti pada urusan penampilan. Melalui karya, desainer juga bisa menyampaikan keresahan, mengangkat persoalan sosial, hingga membangun kesadaran publik.

“Melalui Rampang, saya ingin mengajak masyarakat melihat bahwa fashion memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar menciptakan keindahan. Ada pesan yang bisa disampaikan, ada keresahan yang bisa diterjemahkan menjadi karya, dan ada kesadaran yang ingin kita bangun bersama,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pihak tertentu. Perlu kepedulian bersama untuk menjaga lingkungan agar kerusakan hutan tidak terus berulang.

“Alam sudah memberikan begitu banyak inspirasi dan kehidupan bagi kita. Sudah seharusnya kita juga memberikan perhatian dan tanggung jawab untuk menjaganya. Saya percaya kreativitas anak muda dapat menjadi salah satu cara untuk menyuarakan kepedulian tersebut,” tambahnya.

Kehadiran By.Yunra dalam MEF 2026 sekaligus memperlihatkan bagaimana pelaku industri kreatif dapat mengambil peran dalam menyampaikan isu-isu penting di masyarakat. Kreativitas tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi sarana menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.

Lewat Rampang, Yusi mengingatkan bahwa keindahan sebuah karya tidak semata-mata dinilai dari bentuk dan tampilannya. Ada cerita, pesan, serta tanggung jawab yang bisa disampaikan melalui setiap rancangan. Termasuk mengingatkan masyarakat bahwa menjaga hutan merupakan tanggung jawab bersama. (rls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button