
Foto: Camat Sangatta Selatan, Dewi. (Rangga R/Bujurnews)
Bujurnews, Sangatta – Bangunan pasar yang lama sepi aktivitas tak ingin dibiarkan terus tanpa fungsi maksimal. Pemerintah Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur (Kutim), mulai menyiapkan langkah untuk menghidupkan kembali Pasar Sangatta Selatan dengan konsep baru. Tak sekadar menjadi tempat transaksi jual beli, kawasan itu digagas sebagai pusat jajanan kuliner lokal sekaligus ruang kreativitas bagi generasi muda.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, pemerintah kecamatan mulai menjajaki dukungan pendanaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Camat Sangatta Selatan Dewi mengatakan, gagasan revitalisasi pasar telah dibahas bersama sejumlah komunitas pemuda, termasuk Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sangatta Selatan. Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan konsep pemanfaatan pasar yang lebih menarik dan berkelanjutan.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah menata ulang bagian tengah bangunan dengan membongkar sejumlah sekat agar ruang di dalam pasar menjadi lebih terbuka dan leluasa. Dengan begitu, kawasan tersebut diharapkan lebih nyaman bagi pedagang maupun pengunjung tanpa harus merombak keseluruhan bangunan.
Menurut Dewi, potensi kuliner lokal di Sangatta Selatan perlu dikembangkan agar tidak hanya ramai pada momentum tertentu. Selama ini, aktivitas perdagangan jajanan cenderung meningkat pada momen musiman, seperti saat Ramadan.
Karena itu, pihaknya ingin menghadirkan aktivitas ekonomi yang berlangsung rutin, terutama pada akhir pekan. Pasar bisa menjadi tempat berkumpul masyarakat sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM setempat.
“Konsepnya tidak hanya berpikir bahwa jajanan itu bisa dinikmati saat Ramadan saja, tetapi mungkin setiap akhir pekan juga bisa ada,” ujar Dewi saat diwawancarai, Selasa (13/10/2026).
Tak berhenti pada urusan ekonomi, pasar tersebut juga dirancang menjadi ruang aktivitas positif bagi anak muda. Pemerintah kecamatan berharap tersedianya ruang berekspresi dan fasilitas pendukung, termasuk sarana olahraga, dapat mendorong remaja mengembangkan potensi diri.
Upaya itu sekaligus menjadi bagian dari langkah menciptakan lingkungan pergaulan yang lebih sehat di tengah kekhawatiran terhadap penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
“Kita berharap ke depan ada ruang untuk anak, khususnya remaja, bagaimana mereka bisa mengeksplorasi diri, jadi tidak terkunci pada kegiatan-kegiatan yang negatif,” jelasnya.
Meski konsep telah disiapkan, rencana menghidupkan kembali pasar tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan. Salah satunya, keterbatasan kapasitas bangunan yang dikhawatirkan tidak mampu menampung seluruh pedagang yang ingin berjualan.
Persoalan ini perlu diperhitungkan sejak awal. Sebab, jika sebagian pedagang bisa berjualan di dalam pasar sementara lainnya harus berada di luar, kondisi tersebut berpotensi memunculkan kecemburuan dan menyulitkan penataan.
“Kalau pasar kita cukup untuk menampung semua pelapak, secara otomatis tidak akan sulit untuk ditertibkan,” ungkap Dewi.
Selain kapasitas, aspek lingkungan juga menjadi perhatian. Posisi pasar yang berdekatan dengan aliran sungai menuntut pengelolaan limbah dan kebersihan yang baik agar aktivitas perdagangan tidak menimbulkan pencemaran.
Di sisi lain, muncul wacana alternatif dari Bupati Kutim terkait kemungkinan pemindahan pasar ke kawasan Lapangan Garuda. Opsi tersebut masih akan dibahas lebih lanjut bersama tokoh masyarakat setempat untuk mencari kesepakatan terbaik.
Pembahasan juga perlu mempertimbangkan penataan fasilitas pendukung, termasuk kemungkinan integrasi antara kawasan pasar dan fasilitas ibadah.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah kecamatan mulai menjajaki peluang pendanaan dari sektor swasta. CSR PT KPC menjadi salah satu opsi yang dibidik untuk mendukung penataan dan pengembangan kawasan pasar.
Dewi menyebut, komunikasi awal dengan pihak perusahaan mendapat respons terbuka. Pemerintah kecamatan kini perlu mematangkan konsep program beserta proposal terperinci sebelum mengajukannya secara resmi kepada manajemen KPC.
Dukungan pendanaan tersebut diharapkan dapat membantu merealisasikan gagasan revitalisasi, sehingga pasar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal bisa kembali memiliki fungsi ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
“Secara lisan dari hasil diskusi kami, tidak masalah. Diminta langsung saja ditawarkan programnya,” pungkas Dewi. (RR)




