Kutim

Festival Lom Plai 2026: Tradisi Dayak Wehea Terjaga Meski Pertanian Cenderung Menyusut

Bujurnews, Kutai Timur – Sorotan terhadap kondisi pertanian dan akses pariwisata mengemuka di tengah kemeriahan Pesta Adat dan Budaya Lom Plai 2026 yang digelar di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Rabu (22/4/2026).

Perayaan tahunan milik Suku Dayak Wehea itu tetap berlangsung semarak dengan berbagai ritual dan pertunjukan budaya. Namun, Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi menilai ada pergeseran makna yang perlu menjadi perhatian bersama, terutama terkait tradisi syukuran panen.

Ia menegaskan bahwa Lom Plai bukan sekadar agenda seremonial, melainkan warisan budaya yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat Dayak Wehea. Tradisi ini, kata dia, merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus upaya pelestarian budaya lokal.

“Ini tradisi yang sudah puluhan tahun dijalankan. Harapannya tetap lestari dan tidak hilang,” ujarnya.

Namun, Wabup Mahyunadi mengungkapkan bahwa realitas di lapangan menunjukkan perubahan signifikan. Ia menyoroti mulai berkurangnya aktivitas pertanian padi di masyarakat, yang seharusnya menjadi inti dari perayaan tersebut.

“Kalau ini syukuran panen padi, sekarang kita sudah jarang melihat padinya. Jadi maknanya mulai bergeser menjadi syukuran panen secara umum,” imbuhnya.

Kondisi ini, lanjutnya, berkaitan dengan upaya pemerintah daerah yang tengah mendorong kembali penguatan sektor pertanian melalui program cetak sawah baru. Meski peluang pendanaan dari pemerintah pusat terbuka lebar, realisasinya masih menghadapi kendala di lapangan.

Menurut Mahyunadi, salah satu hambatan utama adalah pilihan masyarakat yang lebih condong mengembangkan perkebunan kelapa sawit dibandingkan persawahan.

“Banyak masyarakat masih ragu menjadikan lahannya sebagai sawah karena lebih memilih sawit. Tapi kalau ada yang siap, pemerintah siap memfasilitasi,” katanya.

Di sisi lain, Lom Plai 2026 yang berlangsung sejak 23 Maret hingga 24 April tetap menampilkan kekayaan budaya lokal. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari ritual adat, lomba tradisional seperti sumpit, gasing, dan dayung, hingga pertunjukan tari, tumbuk padi, serta expo ekonomi kreatif.

Mahyunadi menekankan pentingnya menjaga keaslian ritual adat sebagai identitas budaya, sembari mendorong inovasi pada sisi pertunjukan agar lebih menarik bagi masyarakat luas.

“Ritual adat harus tetap dijaga, tapi seni pertunjukan bisa dikembangkan agar lebih menarik,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi capaian Lom Plai yang kembali masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) untuk ketiga kalinya, setelah sebelumnya terpilih pada 2023 dan 2024.

Meski demikian, pengembangan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata unggulan masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi aksesibilitas. Jarak tempuh yang cukup jauh serta keterbatasan infrastruktur menjadi kendala utama.

Mahyunadi menyebut, rencana pengembangan bandara perintis sebenarnya sudah masuk dalam agenda pemerintah daerah, namun terkendala oleh penurunan signifikan anggaran daerah.

“Rencana sudah ada, tapi kondisi APBD yang turun hingga 65 persen membuat pelaksanaannya belum bisa maksimal,” jelasnya.

Ia berharap, ke depan Lom Plai terus berlanjut dan kembali masuk dalam kalender KEN, sekaligus menjadi momentum penguatan budaya, pertanian, dan pariwisata di Kutai Timur.

“Yang kurang akan kami perbaiki, yang sudah baik akan terus kita pertahankan dan ditingkatkan,” tutupnya. (ma/rc)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button