
Bujurnews, Nasional – Di tengah deru mesin konstruksi dan bentang hijau hutan Kalimantan, sebuah mahakarya arsitektur religi tengah bersiap mencatat sejarah. Basilika Fransiscus Xaverius Nusantara di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) telah mencapai progres pembangunan 89,30 persen dan digadang-gadang menjadi basilika pertama di Indonesia.
Kehadiran basilika ini bukan sekadar pembangunan rumah ibadah, melainkan simbol kuat wajah keindonesiaan yang menjunjung tinggi keberagaman. Basilika Nusantara berdiri berdampingan dengan Masjid Negara, gereja Kristen, pura, vihara, dan klenteng, mencerminkan harmoni antarumat beragama di jantung ibu kota baru.
Secara kanonik dalam Gereja Katolik, basilika merupakan gelar kehormatan yang disematkan pada gereja dengan nilai sejarah, arsitektur, dan signifikansi spiritual yang tinggi. Basilika Nusantara dirancang menjadi pusat spiritualitas Katolik di IKN, sekaligus simbol kehadiran nilai-nilai ketuhanan di pusat pengambilan keputusan bangsa.
Dengan kapasitas hingga 1.600 umat, struktur utama bangunan, kubah, serta interior dasar basilika kini telah menampakkan kemegahannya. Bangunan ini diproyeksikan menjadi ruang doa bagi perdamaian, persatuan, dan refleksi spiritual umat Katolik di ibu kota negara.
Dari sisi arsitektur, Basilika Nusantara mengusung gaya basilika klasik yang lazim dijumpai di Eropa, namun tetap menyatu dengan identitas lokal Nusantara. Desain bangunan menonjolkan ketinggian dan ruang luas yang memberikan kesan transendental bagi setiap pengunjung.
Sejalan dengan konsep IKN sebagai smart forest city, kawasan basilika dikelilingi ruang terbuka hijau yang mendukung sirkulasi udara alami dan pencahayaan optimal. Selain ruang liturgi utama, basilika juga dilengkapi fasilitas sosial dan pastoral yang terintegrasi.
Kompleks bangunan meliputi Gedung Gereja Katolik empat lantai seluas 8.586 meter persegi, Wisma Uskup tiga lantai seluas 1.770 meter persegi, serta bangunan penunjang berupa kantin dua lantai seluas 256 meter persegi. Sementara kawasan luarnya mencakup Plaza Gereja Katolik, pelataran utama dan pelataran makan, Plaza Jalan Salib, taman doa, taman Wisma Uskup, hingga area parkir.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian publik adalah lokasi basilika yang berdekatan dengan Masjid Negara, yang progres pembangunannya telah mencapai 90,91 persen. Kedekatan ini mengingatkan pada simbol toleransi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang meninjau langsung kawasan rumah ibadah di IKN pada akhir Desember 2025 menegaskan bahwa IKN harus merepresentasikan peradaban Nusantara yang inklusif.
“IKN harus menjadi wajah peradaban Nusantara yang inklusif,” ujar Gibran, Rabu (31/12/2025).
Dengan progres yang hampir menyentuh 90 persen, pengerjaan Basilika Nusantara kini memasuki tahap penyelesaian akhir. Fokus pekerjaan meliputi pemasangan dekorasi religius, altar, dan seni kaca patri, penataan taman serta jalur pedestrian yang menghubungkan basilika dengan rumah ibadah lainnya, serta pengaturan sistem akustik dan pencahayaan untuk mendukung kekhusyukan ibadah.
Sesuai target, Basilika Fransiscus Xaverius Nusantara dijadwalkan rampung sepenuhnya pada Februari 2026 dan akan diresmikan secara kolektif bersama Masjid Negara serta rumah ibadah lainnya pada pertengahan 2026.
Kehadiran basilika ini menjadi penegasan bahwa negara menjamin kemerdekaan setiap warga untuk memeluk agama dan beribadah sesuai keyakinannya, sekaligus menandai babak baru peradaban Indonesia di Ibu Kota Nusantara.




