Bujurnews, Nasional – Kenaikan harga plastik di dalam negeri belakangan ini disebut tidak terlepas dari dampak konflik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan bahwa salah satu bahan baku utama plastik, yakni nafta, masih sangat bergantung pada impor dari kawasan tersebut.
“Nafta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah, sehingga kita terdampak ketika terjadi gangguan pasokan,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ketergantungan Impor Picu Lonjakan Harga
Gangguan produksi dan distribusi di Timur Tengah membuat pasokan bahan baku tersendat, yang kemudian berimbas langsung pada kenaikan harga plastik di pasar domestik.
Pemerintah pun mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku. Beberapa negara yang dijajaki antara lain di kawasan Afrika, India, dan Amerika Serikat.
Selain itu, pemerintah juga berkoordinasi dengan perwakilan Indonesia di luar negeri guna membuka akses terhadap pemasok baru.
Menurut Budi, gangguan pasokan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dirasakan sejumlah negara lain seperti Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand. Sejumlah produsen bahkan mengalami kondisi force majeure yang memengaruhi rantai pasok global.
Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor plastik dan produk turunannya mencapai US$873,2 juta atau sekitar Rp14,84 triliun pada Februari 2026.
Kondisi ini diperparah dengan dampak penutupan Selat Hormuz yang turut mendorong kenaikan biaya logistik dan energi secara global.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman, menyebut tekanan terhadap industri semakin berat akibat kenaikan biaya bahan baku, energi, dan fluktuasi nilai tukar.
“Dampaknya sangat luar biasa, terutama dari nilai tukar rupiah dan energi yang harus dibayar dalam dolar AS,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, gangguan pasokan menyebabkan produksi industri hulu plastik dalam negeri turun hingga sepertiga kapasitas. Akibatnya, harga plastik melonjak signifikan, bahkan di tingkat pedagang kenaikannya dilaporkan bisa mencapai hingga 100 persen.
Sejumlah pedagang juga mengeluhkan kenaikan harga plastik yang sudah terjadi sejak sebelum Lebaran, dengan kenaikan sekitar Rp6.000 per pak dari sebelumnya Rp17 ribu menjadi Rp23 ribu.
Kenaikan harga dan kelangkaan plastik diperkirakan berdampak langsung pada harga produk kemasan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang memiliki keterbatasan stok.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, juga mengakui bahwa kenaikan harga plastik dikeluhkan secara luas oleh para pedagang di pasar.
“Ini bukan sekadar naik, tapi melonjak,” ujarnya.
Pemerintah menegaskan akan terus berupaya menjaga stabilitas pasokan bahan baku agar produksi industri tetap berjalan dan dampak terhadap pelaku usaha dapat diminimalkan.




