
Bujurnews, Kutim — Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, menyoroti faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga telur di daerah, yakni biaya pakan ternak.
Menurutnya, para pedagang telur dan peternak ayam di lapangan sepakat bahwa kualitas dan harga telur sangat bergantung pada kualitas pakan yang digunakan.
Ia menjelaskan, penggunaan pakan yang tidak sesuai formula dapat menurunkan kualitas telur, seperti cangkang yang lebih rapuh dan warna yang kurang optimal. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan harga jual di pasaran.
“Kalau pakan tidak sesuai standar, kualitas telur menurun dan harganya ikut jatuh. Sebaliknya, untuk menjaga kualitas yang baik, tentu membutuhkan biaya pakan yang lebih tinggi,” ujarnya.
Jimmi menambahkan, salah satu kendala utama yang dihadapi daerah adalah ketergantungan terhadap pakan impor. Berbeda dengan wilayah di Pulau Jawa yang sudah mampu memproduksi pakan secara mandiri karena ketersediaan bahan baku, daerah seperti Kutai Timur masih menghadapi keterbatasan dalam hal tersebut.
“Kita berharap pemerintah mulai mendorong inovasi agar daerah bisa memproduksi pakan sendiri, sehingga tidak terus bergantung pada impor,” lanjutnya.
Selain itu, ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan upaya pengendalian inflasi daerah. Menurutnya, kemandirian dalam sektor pangan, termasuk produksi pakan ternak, dapat menjadi langkah strategis untuk menekan laju inflasi.
Jimmi menyebut tingkat inflasi yang ideal berada di kisaran 2 hingga 4 persen. Namun, upaya menuju kemandirian dinilai penting agar daerah memiliki ketahanan ekonomi yang lebih kuat.
“Dengan jumlah penduduk yang belum terlalu besar, seharusnya kita punya peluang untuk mandiri. Ini menjadi langkah penting dalam mengantisipasi inflasi dan memperkuat ekonomi daerah,” tutupnya. (Ma/ja)




