BalikpapanEkonomiKaltim

Dulu Sepi, Kini 70 Kapal Sebulan, Pelabuhan Samboja Siap Gantikan Jalur Surabaya

Bujurnews, Balikpapan – Pelaku usaha pelabuhan di Samboja mendorong jalur ekspor langsung dari Kutai Kartanegara agar produk-produk Kalimantan Timur tidak lagi bergantung pada Surabaya sebagai pintu pengiriman utama. Langkah itu dinilai dapat memangkas biaya logistik, mempercepat distribusi, dan meningkatkan daya saing komoditas daerah.

Dorongan tersebut muncul seiring meningkatnya aktivitas di Pelabuhan Kuala Samboja yang kini melayani sekitar 70 kapal vessel setiap bulan. Kawasan pesisir ini mulai dilirik sebagai salah satu titik strategis pengembangan gerbang logistik baru di Kalimantan Timur.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pengusaha Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kuala Samboja, Loies Subowo Saminanto, mengatakan perkembangan pelabuhan saat ini berbeda jauh dibanding beberapa tahun lalu.

“Sebelum tahun 2019, kapal yang berlabuh di Kuala Samboja masih sedikit karena masih berstatus terminal khusus batu bara,” ujarnya dalam Musyawarah Cabang II APBMI Kuala Samboja di Hotel Platinum Balikpapan, Senin (20/4/2026).

Menurut Loies, perubahan mulai terjadi setelah layanan ship to ship (STS) dibuka pada September 2019. Sejak saat itu, aktivitas bongkar muat meningkat dan arus kapal terus bertambah.

“Sekarang rata-rata sekitar 70 kapal vessel per bulan masuk ke kawasan Kuala Samboja,” katanya.

Pertumbuhan itu turut mendorong usaha lokal. Saat ini, sebanyak 50 perusahaan tergabung di bawah APBMI Kuala Samboja, dan sekitar 60 persen di antaranya merupakan perusahaan lokal milik masyarakat sekitar.

“Ini menunjukkan manfaat ekonomi sudah dirasakan langsung masyarakat, termasuk dari sisi lapangan kerja,” ucap Loies.

Pengurus Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Kalimantan Timur, Hasrun, menilai selama ini banyak komoditas dari Kaltim masih harus dikirim lebih dulu ke Surabaya sebelum diekspor ke luar negeri.

“Selama ini produk kita banyak keluar lewat Surabaya. Ke depan kami berharap cukup dari Samboja saja,” ujarnya.

Menurut dia, jalur ekspor langsung dari Kukar akan menekan biaya tambahan di rantai distribusi. Waktu pengiriman juga dinilai lebih efisien, sehingga harga produk menjadi lebih kompetitif.

Selain mendukung ekspor, pengembangan pelabuhan juga dinilai berpotensi menggerakkan sektor lain, mulai dari pergudangan, transportasi darat, jasa logistik, hingga usaha kecil di sekitar kawasan pelabuhan.

APBMI Kuala Samboja memberi penghargaan kepada mitra kerja dalam rangkaian Musyawarah Cabang II 2026 di Hotel Platinum Balikpapan, Senin (20/4/2026).

Ke depan, pelaku usaha berharap pembangunan Pelabuhan Amborawang dapat dipercepat untuk menambah kapasitas layanan dan menopang arus ekspor-impor dari wilayah tengah Kalimantan Timur.

Meski demikian, target mengurangi ketergantungan pada Surabaya masih bergantung pada kesiapan infrastruktur pelabuhan, kualitas sumber daya manusia, serta dukungan regulasi dan investasi dalam beberapa tahun ke depan. (tgr/rc)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button