Internasional

Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Ekonomi Global, Dampak ke Indonesia Tak Terelakkan

Bujurnews, Internasional – Konflik yang memanas di kawasan Jazirah Arab dinilai berpotensi memicu kepanikan pasar global, terutama karena wilayah tersebut merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia. Ketegangan di kawasan itu dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi internasional, termasuk bagi Indonesia.

Salah satu dampak paling cepat terasa adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis Brent crude oil dan West Texas Intermediate diperkirakan dapat menembus kisaran 120 hingga 150 dolar AS per barel jika jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu. Jalur tersebut menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan berada dalam pengaruh Iran.

Kenaikan harga minyak global juga berpotensi menambah tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah Indonesia menggunakan asumsi harga minyak tertentu dalam penyusunan anggaran. Jika harga minyak dunia melampaui asumsi tersebut, pemerintah menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga bahan bakar bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, atau menambah anggaran subsidi yang berisiko memperlebar defisit.

Di sektor energi, biaya produksi listrik juga berpotensi meningkat. Sejumlah pembangkit listrik milik Perusahaan Listrik Negara masih menggunakan gas dan minyak sebagai bahan bakar. Kondisi tersebut dapat mendorong penyesuaian tarif listrik, terutama bagi pelanggan industri dan rumah tangga non-subsidi.

Selain itu, ketidakpastian global biasanya mendorong investor memindahkan modal dari pasar negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan dolar Amerika Serikat. Kondisi ini berisiko melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS. Pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor bahan baku industri dan pangan, seperti gandum dan kedelai, yang berpotensi memicu kenaikan harga barang konsumsi di dalam negeri.

Kenaikan harga energi juga dapat menimbulkan efek domino terhadap inflasi. Biaya logistik distribusi pangan dari sentra produksi ke pasar berpotensi meningkat jika harga bahan bakar naik. Hal ini dapat memicu inflasi pangan di berbagai daerah dan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.

Jika harga kebutuhan pokok terus meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak berubah, daya beli diperkirakan akan menurun. Kondisi ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun 2026.

Sektor pariwisata juga dinilai rentan terdampak. Destinasi wisata internasional seperti Bali sangat sensitif terhadap isu keamanan global. Kenaikan harga avtur akibat krisis minyak dapat mendorong naiknya harga tiket penerbangan domestik maupun internasional. Selain itu, ketegangan geopolitik sering membuat wisatawan dari Eropa dan Amerika menunda perjalanan karena kekhawatiran terhadap keamanan dan kondisi ekonomi global.

Menghadapi potensi dampak tersebut, sejumlah langkah antisipasi dinilai perlu dilakukan, antara lain penghematan energi, penguatan ketahanan pangan lokal, serta diversifikasi investasi ke instrumen yang lebih stabil seperti emas.

Di tengah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, pemerintah Indonesia diperkirakan akan memfokuskan kebijakan pada upaya menjaga stabilitas pasokan energi nasional serta mengendalikan harga pangan agar dampak ekonomi dapat ditekan. [disarikan dari berbagai sumber] (*/rc)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button