Bujurnews, Sangatta – Para pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang tergabung dalam komunitas Give Away Kutai Timur menggelar kegiatan Iftar Ramadan UMKM di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutai Timur, Sangatta, Sabtu (7/3/2026).
Kegiatan yang juga dirangkai dengan talkshow tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus wadah penguatan jejaring bagi para pelaku usaha lokal. Acara ini merupakan penyelenggaraan yang kelima kalinya oleh Komunitas Give Away.
Anggota DPRD Kutim, Lenny Susilawati Anggraini, yang hadir sekaligus membuka kegiatan, mengapresiasi konsistensi komunitas Give Away dalam membangun ekosistem UMKM di daerah.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada komunitas Give Away. Ini sudah kedua kalinya saya dilibatkan, sebelumnya pada talkshow UMKM dan sekarang pada acara iftar. Saya melihat ini sudah yang kelima kalinya dilaksanakan, artinya komunitas ini memiliki semangat yang terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya.
Menurut Lenny, keberadaan komunitas tersebut tidak hanya sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi diharapkan mampu melahirkan pengusaha muda yang tangguh dan berkelanjutan di Kutai Timur.
Dia juga menyampaikan dukungannya terhadap berbagai program prioritas komunitas, khususnya yang berkaitan dengan pembinaan dan pendampingan bagi pelaku UMKM.
“Saya sebagai anggota DPRD mendukung program pembinaan UMKM. Para pelaku usaha di sini membutuhkan pendampingan baik dari pemerintah maupun perusahaan-perusahaan yang ada di Kutai Timur,” katanya.
Lenny menambahkan, sejumlah perusahaan besar seperti KPC dan PAMA diharapkan dapat meningkatkan program pembinaan terhadap UMKM lokal agar para pengusaha muda di Kutai Timur dapat berkembang lebih pesat.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengapresiasi pertumbuhan komunitas yang kini telah memiliki lebih dari 100 anggota. Ia berpesan agar para pelaku usaha tetap menjaga semangat dan terus saling mendukung.
“Dalam usaha pasti ada ujian. Kadang omzet naik, kadang turun. Karena itu penting untuk saling menguatkan. Banyak perempuan di sini yang juga menjadi penopang ekonomi keluarga melalui usaha mereka,” ujarnya.
Dia pun mengajak para pelaku UMKM untuk tidak takut bermimpi besar dan tidak ragu memulai dari usaha kecil.
“Jangan takut bermimpi besar, jangan malu memulai dari hal kecil, dan jangan berjalan sendiri. Bersama kita jauh lebih kuat. Kita buktikan bahwa dari lokal untuk nasional bukan hanya slogan. Kutai Timur mampu bersaing di tingkat nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komunitas Krast Kutim, Yusi Nudya menyampaikan, kegiatan talkshow dan iftar tahunan Giveaway.id ke-5 ini menjadi kepercayaan besar bagi komunitas kreatif lokal.
Dia menjelaskan, Komunitas Krast merupakan wadah bagi pelaku ekonomi kreatif khususnya di bidang fashion dan kriya di Kabupaten Kutai Timur yang berdiri sejak tahun 2023 dan telah memiliki legalitas resmi dari Kementerian Hukum dan HAM.
“Seluruh anggota kami merupakan pelaku usaha yang telah menjalankan bisnisnya lebih dari 10 tahun. Mereka memiliki keterampilan dan pengalaman serta tetap konsisten menopang perekonomian keluarga melalui karya,” jelasnya.
Yusi menuturkan, komunitas tersebut juga aktif menggelar berbagai kegiatan kreatif, termasuk pagelaran fashion bertema Wastra Etam yang menghadirkan desainer dari berbagai daerah di Kalimantan Timur hingga luar daerah seperti Makassar.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya baru-baru ini berdiskusi dengan Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Timur mengenai masa depan UMKM ekonomi kreatif, khususnya di bidang fashion.
Salah satu rencana besar di tingkat provinsi adalah menghadirkan rumah karya bagi para desainer di Kalimantan Timur sebagai ruang untuk berkarya, berjejaring, dan mengembangkan profesi.
“Kami berharap suatu hari nanti rumah karya tersebut juga hadir di Kabupaten Kutai Timur, sehingga para desainer lokal dapat berkembang dan karyanya bisa dikenal lebih luas hingga tingkat nasional,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Komunitas Krast juga menampilkan karya dari 12 desainer dengan total 25 karya desain yang memiliki karakter dan DNA desain berbeda dari masing-masing perancang.
“Di balik setiap karya yang ditampilkan di atas runway, ada proses panjang yang dilalui, mulai dari ide, revisi berkali-kali, hingga doa keluarga. Semua itu menjadi bukti bahwa karya lokal juga memiliki nilai dan kebanggaan tersendiri,” tutup Yusi. (ma/rc)




