Bujurnews, Bengalon – PT Pamapersada Nusantara berhasil menggelar PAMA Safe School di SMK 1 Bengalon, Senin, 13 April 2026. Kegiatan ini fokus pada evaluasi Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR) sebagai tindak lanjut dari workshop yang sebelumnya telah digelar.
PAMA Safe School melalui evaluasi IBPR tersebut fokus pada penguatan pemahaman sekaligus implementasi langsung oleh siswa, dalam mengidentifikasi potensi bahaya di lingkungan sekolah.
Sebanyak 15 siswa yang tergabung dalam Satgas PAMA Safe School turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka didampingi oleh Pembina Safe School Junaidy, tim CSR PAMA Sri Supriadi, serta tim SHE PAMA Bayu Darmawan.
Dalam pelaksanaannya, para peserta melakukan identifikasi potensi risiko di area sekolah, mendiskusikan tingkat risiko yang ditemukan, serta menyusun langkah-langkah pengendalian yang tepat. Proses ini dilakukan secara langsung dengan pendampingan dari tim SHE dan CSR PAMA, sehingga siswa dapat memahami penerapan IBPR secara praktis.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman siswa terhadap konsep IBPR, meningkatkan kemampuan identifikasi bahaya, serta menumbuhkan budaya keselamatan di lingkungan sekolah. Selain itu, juga menjadi bagian dari upaya mendukung keberlanjutan program PAMA Safe School.
Pembina Safe School, Junaidy menjelaskan, kegiatan ini memberikan dampak positif bagi siswa dalam memahami risiko di sekitar mereka.
“Kegiatan ini sangat membantu siswa memahami risiko di sekitar mereka. Dengan praktik langsung, siswa menjadi lebih peka dan bertanggung jawab terhadap keselamatan,” papar Junaidy.

Perwakilan siswa Satgas PAMA Safe School mengaku mendapatkan pemahaman baru melalui kegiatan tersebut. Mereka kini lebih mampu mengenali potensi bahaya yang sebelumnya tidak disadari, serta berperan aktif dalam menjaga keselamatan di sekolah.
Sementara itu, Sri Supriadi dari CSR PAMA menilai hasil evaluasi menunjukkan kemampuan siswa dalam menerapkan materi IBPR dengan baik. Ia berharap program ini dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari budaya di lingkungan sekolah.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan IBPR secara langsung,” harap Sri Supriadi.
Tak hanya itu, lanjutnya, evaluasi IBPR akan membuat terbentuknya agen perubahan atau safety agent di lingkungan sekolah. Itu diharap mampu meningkatkan kesadaran keselamatan serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman. (soc/rc)




