Bujurnews, Sangatta – Kalangan pengusaha menilai arah pembangunan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) saat ini mulai bergerak ke jalur yang lebih strategis melalui kebijakan hilirisasi dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Ketua II Dewan Presidium Pengusaha Kutim Hebat, Abdul Haris memuji upaya Pemkab Kutim yang saat ini telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Seperti penguatan anggaran pembangunan, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, peningkatan investasi, serta peningkatan produktivitas sektor unggulan daerah.
“Road map ekonomi Kutai Timur saat ini mulai diarahkan pada hilirisasi sektor-sektor potensial agar tidak hanya bergantung pada sektor tambang dan belanja APBD,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu fokus utama adalah hilirisasi industri kelapa sawit dengan mendorong pengolahan komoditas tersebut menjadi produk bernilai tambah, seperti crude palm oil (CPO) dan berbagai produk turunannya.
Selain itu, sektor pertanian dan perikanan juga dinilai memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan. Peningkatan produksi, pengolahan hasil, hingga pemasaran dinilai penting agar sektor ini mampu menjadi penopang ekonomi daerah.
“Penguatan infrastruktur ekonomi dan logistik juga menjadi faktor penting agar aktivitas produksi dan distribusi bisa berjalan lebih efisien,” katanya.
Dia menjelaskan, strategi tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Kutai Timur terhadap sektor pertambangan sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), membuka lapangan kerja baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Haris, stabilitas ekonomi daerah dan pemerataan pembangunan menjadi kunci utama dalam memperkuat fondasi ekonomi Kutai Timur ke depan. Karena itu, kerja-kerja terukur dari organisasi perangkat daerah (OPD) dinilai penting untuk mengimplementasikan visi dan misi pembangunan daerah, termasuk melalui berbagai program strategis pemerintah.Ia juga menilai peran organisasi non-pemerintah sebagai bagian dari ekosistem ekonomi daerah perlu diperkuat. Salah satunya melalui peran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kutai Timur yang diharapkan mampu menjadi jembatan untuk mendatangkan investor dari luar daerah.
“Kadin diharapkan dapat berperan sebagai negosiator untuk membuka peluang investasi baru di Kutai Timur,” katanya.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang sering dikeluhkan investor, terutama terkait proses perizinan yang dinilai masih berbelit.
Dalam berbagai forum diskusi ekonomi yang diikuti baik di tingkat lokal, regional maupun nasional, persoalan birokrasi yang rumit kerap menjadi perhatian kalangan investor.
“Jika komunikasi dan pelayanan perizinan bisa diperbaiki oleh OPD terkait secara cepat dan tepat, maka kepercayaan investor akan meningkat,” ujarnya.
Ia berharap dalam lima tahun kepemimpinan pemerintah daerah saat ini akan muncul terobosan baru yang mampu memperkuat fondasi ekonomi Kutai Timur.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi harus terus dijaga, namun faktor kondusivitas daerah juga menjadi hal yang tidak kalah penting.
“Kepercayaan investor sangat dipengaruhi oleh stabilitas daerah. Jika itu terjaga, maka investasi akan datang dan menjadi peta baru bagi pembangunan ekonomi Kutai Timur,” pungkasnya. (rc)



