
Bujurnews.com – Generasi Z dihadapkan pada ancaman serius krisis lapangan kerja global di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan ketidakpastian ekonomi dunia. Laporan terbaru Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) memperingatkan, semakin banyak pekerjaan yang hilang akibat otomatisasi dan penerapan teknologi baru yang menggantikan peran manusia.
Dalam laporan Future of Jobs Report yang dirilis WEF, sebanyak 41% perusahaan di seluruh dunia mengaku berencana melakukan pengurangan jumlah karyawan secara signifikan hingga tahun 2030. Sebaliknya, hanya sebagian kecil perusahaan yang menyatakan akan menambah tenaga kerja baru.
“Perkembangan AI dan energi terbarukan tengah membentuk ulang pasar tenaga kerja, mendorong meningkatnya permintaan untuk banyak peran teknologi atau spesialis, sekaligus menurunkan kebutuhan untuk pekerjaan lain seperti desainer grafis,” kata WEF dikutip dari CNN International.
Managing Director WEF Saadia Zahidi menyoroti bahwa AI generatif—teknologi yang mampu menciptakan teks, gambar, dan konten orisinal—telah mengubah cara kerja di berbagai sektor industri.
Menurut WEF, profesi seperti petugas layanan pos, sekretaris eksekutif, dan petugas penggajian akan mengalami penurunan tercepat dalam beberapa tahun mendatang. Bahkan, untuk pertama kalinya, desainer grafis dan sekretaris hukum masuk daftar 10 besar pekerjaan yang paling cepat menurun, menunjukkan meningkatnya kemampuan AI dalam mengerjakan tugas berbasis pengetahuan.
Namun, di sisi lain, laporan tersebut juga menunjukkan adanya lonjakan permintaan terhadap tenaga kerja dengan keahlian teknologi. Sekitar 70% perusahaan berencana merekrut pekerja dengan kemampuan merancang dan mengembangkan AI, sementara 62% lainnya berniat menambah posisi bagi pekerja yang mampu berkolaborasi dengan sistem AI.
Meski banyak pekerjaan hilang, WEF memberikan nada optimistis. Dampak utama AI generatif terhadap pasar kerja, menurut laporan itu, bukan semata-mata menggantikan manusia, tetapi meningkatkan keterampilan dan efisiensi melalui kolaborasi manusia-mesin.
“Potensi terbesar AI terletak pada kemampuannya untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya,” tulis laporan tersebut.
Kenyataannya, dampak negatif sudah mulai terasa. Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Dropbox dan Duolingo secara terbuka menyebut penggunaan AI sebagai alasan utama dilakukannya PHK dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana transformasi digital yang semula diharapkan memperluas peluang kerja, justru kini menciptakan ketimpangan baru di pasar tenaga kerja, terutama bagi generasi muda seperti Gen Z yang sedang memasuki dunia kerja.
Para analis memperkirakan, tanpa kesiapan keterampilan baru, generasi ini bisa menjadi kelompok paling rentan dalam era disrupsi teknologi.




