
Bujurnews, Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mendorong transformasi ekonomi daerah agar tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan.
Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah (P2EP) Bappeda Kutim, Marhadyn, menegaskan pentingnya membangun ekonomi berkelanjutan melalui sektor pertanian dalam arti luas.
Menurut Marhadyn, Kutai Timur selama ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi, bahkan pernah mencapai dua digit sekitar 10 persen.
Kutim tercatat sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Kalimantan Timur, berada di peringkat kedua setelah wilayah Penajam Paser Utara yang terdorong oleh aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kalau bukan karena adanya dorongan pembangunan besar di Penajam Paser Utara akibat IKN, sebenarnya pertumbuhan ekonomi Kutai Timur bisa menjadi yang tertinggi,” ujarnya.
Namun demikian, ia menilai ketergantungan terhadap sektor tambang membuat ekonomi daerah menjadi rentan. Oleh karena itu, Pemkab Kutim mulai memfokuskan pembangunan pada sektor pertanian, perkebunan, dan sektor-sektor turunan lainnya.
Ia juga mengungkapkan salah satu sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar di Kutim saat ini adalah sektor pertanian dalam arti luas. Meski belum maksimal, sektor ini dinilai memiliki ruang yang besar untuk terus dikembangkan sebagai fondasi transformasi ekonomi daerah.
“Visi dan misi pembangunan daerah sudah jelas, salah satunya adalah transformasi ekonomi di bidang pertanian. Kita tidak bisa terus berharap pada sektor lama,”imbuhnya.
Ia menekankan pentingnya regenerasi petani dengan melibatkan anak muda dan penerapan teknologi modern. Menurutnya, pertanian ke depan tidak lagi identik dengan cangkul dan cara-cara tradisional, tetapi harus berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kita punya SMA, kita punya Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur. Ini harus dibangkitkan semangatnya. Dulu Bapak Awang Faroek Ishak membangun STIPER karena beliau berpikir jauh ke depan, bahwa 40 sampai 45 tahun ke depan Kutai Timur akan dibangun dari sektor pertanian,” jelasnya.
Selain itu, Marhadyn juga menyoroti minimnya keterlibatan pemuda dalam proses perencanaan dan penyusunan kebijakan daerah.
Oleh karenanya, Ia mengajak generasi muda untuk lebih aktif mengambil peran dan memanfaatkan ruang partisipasi yang telah disediakan pemerintah.
“Ruang itu ada dan terbuka.
Pemuda harus berani masuk dan terlibat dalam penyusunan perencanaan daerah,” tegasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah dan kelompok tani muda mulai dibangun. Bahkan, Bappeda Kutim telah menggandeng komite petani muda untuk bersama-sama mengembangkan sektor pertanian di daerah.
“Ini bukan lagi wacana awal. Kita sudah mulai bergerak dan melihat potensi besar dari kelompok tani muda untuk berkolaborasi dengan pemerintah,” katanya.
Sebagai anak petani, Marhadyn mengaku memiliki keterikatan emosional dengan sektor pertanian. Ia menuturkan bahwa pendidikannya ditempuh dari hasil pertanian kakao milik orang tuanya.
“Ini soal kembali ke dasar. Bukan saya yang harus menjadi petani, tetapi seluruh pemerintahan harus memastikan bahwa transformasi ekonomi ke depan benar-benar bertumpu pada sektor pertanian,” pungkasnya. (Ma/ja)



