Kota

Dari Kuli Bangunan hingga Kursi Gubernur: Jejak Perjalanan Politik Abdul Wahid

Bujurnews.com — Nama Abdul Wahid belakangan kembali jadi sorotan publik usai dirinya diamankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Senin (3/11/2025). Namun di balik kabar yang mengejutkan itu, tersimpan kisah panjang perjalanan hidup seorang anak desa yang berhasil menembus kerasnya dunia politik hingga menduduki kursi tertinggi di Provinsi Riau.

Masa Kecil di Dusun Anak Peria
Abdul Wahid lahir di Dusun Anak Peria, Kabupaten Indragiri Hilir, pada 21 November 1980. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara yang tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi. Sejak kecil, Wahid terbiasa membantu ibunya di sawah dan kebun warga demi mencukupi kebutuhan hidup.

Kehidupan sederhana itu membentuk karakter tangguh dalam dirinya. Ketika banyak teman sebayanya menghabiskan waktu bermain, Wahid kecil justru sibuk membantu keluarga. “Yang penting bisa lanjut sekolah dan tidak merepotkan ibu,” ujarnya dalam sebuah wawancara beberapa tahun silam.

Perjuangan di Dunia Pendidikan
Perjalanan pendidikannya tidak mudah. Setelah lulus madrasah, Wahid melanjutkan kuliah di UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam. Untuk membiayai kuliahnya, ia bekerja sebagai cleaning service di kampus. Tak jarang, ia juga menjadi kuli bangunan dan buruh harian lepas.

Dari lingkungan kampus dan kehidupan keras itulah, Wahid menempa kedisiplinan dan etos kerja tinggi. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang aktif, rendah hati, dan rajin mengikuti kegiatan sosial maupun organisasi kemahasiswaan.

Langkah Awal di Dunia Politik
Keterlibatannya di organisasi kampus membuka pintu ke dunia politik. Ia mulai aktif di berbagai organisasi kepemudaan dan sosial keagamaan, sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Bagi Wahid, partai berbasis Nahdlatul Ulama itu memiliki nilai perjuangan yang sejalan dengan latar belakang santrinya.

Perlahan namun pasti, karier politiknya menanjak. Ia dikenal sebagai kader muda yang cerdas, komunikatif, dan dekat dengan masyarakat. Namanya mulai diperhitungkan di internal partai dan di kalangan masyarakat Riau.

Menjadi Wakil Rakyat di Senayan
Perjuangan panjang itu membuahkan hasil ketika Abdul Wahid terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2019. Ia duduk di Komisi yang membidangi pembangunan dan infrastruktur, serta dikenal vokal memperjuangkan aspirasi masyarakat Riau mulai dari isu pendidikan hingga pemerataan pembangunan di daerah pelosok.

Kinerjanya membuatnya kembali dipercaya maju pada Pemilu 2024, di mana ia berhasil meraih suara terbanyak di dapil Riau. Dari situ, namanya semakin menguat sebagai figur muda potensial yang diharapkan bisa membawa perubahan di daerah kelahirannya.

Menduduki Kursi Gubernur Riau
Popularitas dan dukungan masyarakat yang besar akhirnya mengantarkan Abdul Wahid menjadi Gubernur Riau periode 2025–2030. Ia resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 di Istana Negara, Jakarta. Pelantikannya kala itu disambut haru dan penuh kebanggaan oleh warga Riau.

Banyak yang melihat sosok Wahid sebagai simbol “anak daerah yang berhasil”—dari seorang pekerja kasar menjadi pemimpin provinsi. Ia dikenal merakyat, sederhana, dan sering turun langsung ke lapangan untuk menyapa warga.

Namun, perjalanan karier gemilang itu kini tercoreng setelah KPK melakukan OTT terhadapnya terkait dugaan suap proyek di lingkungan pemerintah provinsi. Kasus tersebut menjadi OTT keenam KPK sepanjang 2025, sekaligus membuka babak baru dalam perjalanan panjang karier politiknya.

Bagi sebagian masyarakat Riau, kisah Abdul Wahid adalah potret nyata perjuangan anak bangsa yang meniti karier dari bawah. Namun sekaligus menjadi pengingat bahwa setinggi apa pun jabatan yang diraih, integritas dan amanah tetap menjadi fondasi utama dalam kepemimpinan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button