Trump Perintahkan Tindakan Militer Tegas di Selat Hormuz, Ketegangan AS-Iran Meningkat
Bujurnews, Internasional – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan keras terkait situasi keamanan di Selat Hormuz. Ia memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mengambil tindakan tegas terhadap kapal yang diduga memasang ranjau di jalur vital tersebut.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Kamis (23/4/2026) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa kapal apa pun yang terlibat dalam aktivitas tersebut harus “ditembak dan dihancurkan” tanpa keraguan.
Selain itu, ia juga memerintahkan kapal penyapu ranjau AS untuk meningkatkan operasi pembersihan jalur laut hingga tiga kali lipat guna menjamin keamanan pelayaran internasional.
Pernyataan ini menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang sebelumnya telah memanas sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu. Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia, kini mengalami gangguan serius.
Sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran, Washington dilaporkan memberlakukan blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran di kawasan tersebut. Langkah ini bertujuan memaksa Iran membuka kembali akses penuh ke selat dan kembali ke meja perundingan.
Komando militer AS menyebutkan bahwa hingga kini puluhan kapal telah diarahkan untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan sebagai bagian dari implementasi blokade.
Trump bahkan mengklaim bahwa kendali atas Selat Hormuz kini berada di tangan Amerika Serikat.
“Tidak ada kapal yang dapat masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut AS,” tulisnya dalam unggahan terpisah.
Di tengah situasi tersebut, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menurun drastis. Jika dalam kondisi normal sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur ini, kini jumlah kapal yang lewat hanya tersisa dalam hitungan satu digit per hari.
Data pelacakan kapal menunjukkan penurunan tajam, dengan hanya delapan kapal yang melintas pada Rabu, termasuk tiga kapal tanker minyak.
Sementara itu, dari pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan dilakukan dalam waktu dekat selama blokade Amerika Serikat masih berlangsung.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran global, mengingat peran strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi dunia serta potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi internasional. (Ja/ja)




