Keterbatasan Anggaran Dinilai Hambat Pengembangan Pariwisata Samarinda

Bujurnews.com, Samarinda – Pengembangan sektor pariwisata di Kota Samarinda masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait keterbatasan anggaran daerah.
Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Rusdi Doviyanto, mengatakan kemampuan fiskal pemerintah daerah saat ini masih terbatas sehingga belum mampu menopang pengembangan sektor pariwisata secara optimal.
Menurutnya, sebagian besar anggaran pemerintah masih difokuskan untuk membiayai berbagai program prioritas dan kebutuhan rutin daerah.
Sehingga ruang fiskal yang tersedia untuk membangun destinasi wisata baru maupun meningkatkan kualitas objek wisata yang telah ada menjadi sangat terbatas.
Ia menjelaskan, pembangunan sektor pariwisata bukan hanya berkaitan dengan penyediaan lokasi wisata semata.
Tetapi juga membutuhkan investasi yang cukup besar untuk membangun infrastruktur pendukung, memperbaiki akses menuju kawasan wisata, menyediakan fasilitas yang memadai bagi pengunjung, hingga melaksanakan promosi secara berkelanjutan agar destinasi wisata dikenal masyarakat luas.
Rusdi menilai seluruh aspek tersebut memerlukan dukungan anggaran yang tidak sedikit.
Karena itu, keterbatasan pembiayaan menjadi hambatan utama dalam menghadirkan destinasi wisata yang memiliki daya tarik dan mampu bersaing dengan daerah lain.
“Dengan anggaran yang terbatas, sulit menghadirkan destinasi wisata baru yang benar-benar menarik,” ujarnya pada Minggu (26/7/2026).
Menurut Rusdi, apabila Pemerintah Kota Samarinda ingin menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama perekonomian daerah, maka peningkatan alokasi anggaran harus menjadi perhatian serius.
Dia berpandangan, tanpa dukungan pendanaan yang memadai, proses pembangunan destinasi wisata akan berjalan lambat sehingga sulit menghasilkan objek wisata yang kompetitif dan mampu menarik kunjungan wisatawan dalam jumlah besar.
Lebih lanjut, ia menilai perkembangan sektor pariwisata Samarinda masih tertinggal dibandingkan sejumlah kabupaten dan kota lain di Kalimantan Timur.
Beberapa daerah dinilai telah berhasil mengembangkan kawasan wisata melalui perencanaan yang matang, pengelolaan yang berkelanjutan, serta dukungan investasi yang dilakukan secara konsisten.
Oleh sebab itu, Rusdi mendorong pemerintah daerah untuk menyusun arah kebijakan pengembangan pariwisata yang lebih jelas dan terukur.
Salah satu potensi yang dinilai layak menjadi fokus pengembangan adalah wisata budaya yang memiliki karakteristik khas dan tidak dimiliki daerah lain.
Menurutnya, konsep pengelolaan destinasi harus dirancang secara profesional sehingga tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata.
“Konsep pengelolaan harus jelas agar pengembangannya memberi dampak bagi ekonomi masyarakat,” katanya.
Rusdi mencontohkan Desa Budaya Pampang sebagai salah satu kawasan yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan Kota Samarinda.
Kawasan tersebut dinilai memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi daya tarik utama apabila dikelola secara profesional tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi dan identitas masyarakat setempat.
Ia meyakini pengelolaan yang baik akan memberikan manfaat yang luas, tidak hanya meningkatkan jumlah wisatawan yang datang.
Tetapi juga menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat melalui aktivitas ekonomi di sekitar kawasan wisata.
Kehadiran wisatawan diyakini mampu mendorong pertumbuhan sektor perdagangan, jasa, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain pengelolaan kawasan wisata, Rusdi juga menekankan pentingnya penyelenggaraan pertunjukan seni dan budaya secara rutin di Desa Budaya Pampang.
Menurutnya, kegiatan budaya yang digelar secara berkala akan memberikan kesempatan lebih luas bagi wisatawan untuk menikmati atraksi budaya kapan pun mereka berkunjung ke Samarinda, tanpa harus menunggu agenda atau perayaan tertentu.
Ia menilai konsistensi penyelenggaraan kegiatan budaya akan memperkuat identitas Samarinda sebagai kota yang memiliki kekayaan budaya, sekaligus meningkatkan daya saing sektor pariwisata daerah di tingkat regional.
Di sisi lain, Rusdi juga menyoroti masih terbatasnya jumlah destinasi wisata yang dimiliki Kota Samarinda.
Meski mengapresiasi kehadiran Teras Samarinda sebagai salah satu ikon baru kota, menurutnya keberadaan satu objek wisata saja belum cukup untuk menarik wisatawan agar menetap lebih lama selama berada di Kota Tepian.
“Samarinda membutuhkan lebih banyak destinasi agar wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa semakin banyak pilihan destinasi yang tersedia, maka semakin besar pula peluang terjadinya perputaran ekonomi di berbagai sektor.
Aktivitas wisata akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan pelaku usaha kuliner, hotel, transportasi, UMKM, hingga pelaku ekonomi kreatif yang menggantungkan usahanya pada kunjungan wisatawan.
Karena itu, Rusdi berharap Pemerintah Kota Samarinda dapat meningkatkan dukungan anggaran bagi sektor pariwisata sekaligus menyusun strategi pengembangan yang terencana, berkelanjutan, dan memiliki target yang jelas.
(Rfh/Adv DPRD Samarinda)