ISPU Balikpapan Tembus 101, DLH Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Bujurnews.com, Balikpapan – Warga Balikpapan perlu meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan. Hasil pemantauan kualitas udara pada Senin (12/10/2026) pagi menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 101, dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 sebesar 108 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut menempatkan kualitas udara dalam kategori tidak sehat.
Data tersebut tercatat melalui Stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) Balikpapan Sepinggan pada pukul 09.00 WITA. Selain PM2.5, konsentrasi partikulat PM10 juga terukur mencapai 146 µg/m³.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, karib disapa Dirman, mengatakan hasil pemantauan itu menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan kegiatan di luar rumah.
“Berdasarkan hasil pengukuran, ISPU berada di angka 101 sehingga kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Masyarakat perlu lebih berhati-hati, terutama saat melakukan aktivitas di luar ruangan,” kata Dirman.
Ia menjelaskan, partikulat halus seperti PM2.5 perlu diwaspadai karena ukurannya sangat kecil dan dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Risiko paparan tersebut menjadi perhatian khusus bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan maupun penyakit jantung.
Kondisi lingkungan saat pengukuran turut menjadi perhatian. Suhu udara tercatat 29,2 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 87 persen. Sementara itu, kecepatan angin berada pada angka 0 kilometer per jam dan curah hujan tercatat hanya 0,1 milimeter.
Menurut Dirman, kondisi angin yang sangat rendah dapat memengaruhi pergerakan dan penyebaran polutan di sekitar lokasi pemantauan. Namun, kondisi meteorologi tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab utama meningkatnya konsentrasi pencemar udara.
“Untuk mengetahui faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini, diperlukan analisis lebih lanjut terhadap kondisi meteorologi dan sumber emisi. Kami juga akan memverifikasi data pemantauan sebelum menarik kesimpulan,” jelasnya.
DLH belum menetapkan satu sumber tertentu sebagai penyebab tingginya konsentrasi partikulat. Sejumlah kemungkinan yang akan dievaluasi meliputi emisi kendaraan bermotor, aktivitas konstruksi, pembakaran terbuka, serta sumber partikulat lainnya.
Pemantauan melalui AQMS juga mencakup berbagai parameter pencemar, tidak hanya PM2.5 dan PM10. Beberapa parameter lain yang diukur meliputi sulfur dioksida (SO₂), karbon monoksida (CO), ozon (O₃), nitrogen dioksida (NO₂), dan hidrokarbon (HC).
Dirman menegaskan, hasil pemantauan selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan apabila kualitas udara terus memburuk atau kondisi tidak sehat berlangsung dalam waktu lama. DLH juga akan berkoordinasi dengan instansi terkait sesuai hasil evaluasi.
“Kami mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan selama kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar, terutama kelompok sensitif, sebaiknya meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan pencemar udara,” pungkasnya. (*/ADV/Diskominfo Balikpapan)




