Kerusakan Lingkungan Jadi Sorotan, DPRD Kaltim Ingatkan AMDAL Harus Dijalankan Tanpa Kompromi
Bujurnews.com, Kaltim – Dorongan untuk meninjau ulang AMDAL perusahaan tambang dan perkebunan kembali disuarakan oleh Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan. Ia menilai kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri telah mencapai tahap yang mengancam keselamatan warga, sehingga evaluasi wajib dilakukan secara menyeluruh dan tanpa kompromi.
Ia menyebut banjir yang melanda berulang kali adalah bukti bahwa tata kelola lingkungan sudah memasuki fase kritis. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai bencana alam semata.
Agusriansyah membeberkan bahwa banyak kawasan penyangga ekologis telah berubah fungsi menjadi area produksi. Ia mengatakan hilangnya pepohonan, pendangkalan sungai, serta buruknya sistem drainase alam mempercepat proses limpasan air. “Kalau ruang air dipersempit, ya banjir tidak akan bisa dihindari,” ujarnya.
Ia menegaskan seluruh perusahaan wajib dievaluasi, terutama yang dinilai memiliki dampak besar terhadap perubahan tata ruang. “Pemerintah harus melihat kembali apakah AMDAL yang mereka punya masih relevan dengan kondisi sekarang. Jangan sampai dokumen hanya formalitas,” katanya.
Dalam kesempatannya, ia juga menekankan perlunya keberanian pemerintah menindak perusahaan yang terbukti lalai mengelola dampak lingkungan. Menurutnya, penegakan hukum perlu dilakukan agar kerugian masyarakat tidak terus berulang. “Sudah saatnya aturan dipertajam. Kalau ada pelanggaran, harus ada sanksi,” imbuhnya.
Agusriansyah mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun kesadaran bahwa lingkungan adalah investasi jangka panjang. Ia menekankan bahwa keberadaan tambang dan perkebunan tetap penting bagi ekonomi, namun harus diimbangi tanggung jawab ekologis. “Kita butuh industri, tapi lebih butuh keselamatan warga,” ucapnya.
Ia berharap evaluasi AMDAL dapat menjadi titik balik dalam perbaikan tata kelola lingkungan di Kalimantan Timur. Menurutnya, jika tidak dilakukan segera, risiko bencana akan semakin tinggi dan membebani generasi mendatang. (Adv/Rir)




